Pages

Rabu, 16 April 2014

Ghost of Shania part 1


“Dik, mana jambunya?!” teriakku lantang mendangak ke arah pohon jambu itu. Di salah satu dahannya si Dika berusaha memetik satu persatu jambu dan menjatuhkannya ke arah kami.
“Iya.. iya, bentar!” sahutnya kemudian.

Pukk! Pukk! Pukk!
Satu persatu jambu hasil petikan Dika saling berjatuhan. Aku, Reyna, dan Azzam memungutinya dan mengumpulkan ke kantong plastik berukuran besar. Tapi.. ada jambu yang menggelinding jauh dan berhenti tepat di tungkai kaki seseorang. Aku berhenti dan diam di tempat sambil kupandangi kaki misterius itu sampai ke atas.
“Ini jambu kalian?” tanya seorang cewek padaku.
Aku diam lagi saat kulihat wajahnya sangat cantik. Kecantikannya itu melebihi aku dan membuat aku iri banget lihatnya. Kulitnya putih mulus bak porselein, wajahnya rada kayak cewek-cewek korea gitu deh! apalagi rambutnya yang bergelombang indah berwarna coklat gelap.
“I… ya, makasih ya.” Ucapku mengambil jambu dari tangannya.
“Oh iya, boleh aku gabung sama kalian?”

Aku sebenarnya rada terhenyak mendengar kata-katanya. Rasanya agak aneh aja cewek secantik bidadari kayak dia gabung sama geng aku. Apalagi kalau sudah ketemu sama si Dika. Ugh! Pasti dia nggak bakal berhenti nggegebetin cewek ini.

“Eh, Ly! Kamu ngomong sama siapa?” mereka bertiga langsung menghampiri kami berdua.
“Wow! Ada temen baru nih!”
“Yoi, cantik lagi!”
Tuh kan, si Dika mulai lagi dengan gombalannya yang super duper playboy.
“Aku Shania, boleh aku gabung sama kalian?”
Kami saling bertatapan mata. Ada yang mengangguk setuju, kecuali aku yang masih kelihatan ragu. “Udah Ly, biarin aja dia mau gabung sama kita. Lagipula dengan begini kita bisa nambah temen baru. Iya nggak?”
Azzam dan Dika saling mengangguk setuju saat Reyna menerima Shania gabung di geng kita.

“Eh, mbak namanya tadi siapa? Kenalin.. aku Dika. Andika Putra Lesmana.” Sontak Dika menyerobot kami bertiga sambil mengulurkan tangannya.
“Nama saya Shania.” Jawab Shania lagi dengan tutur kata lembut dan sopan. Hingga membuat Dika jadi klepek-klepek nggak berdaya.
“Oh my gosh! Nama yang cantik, secantik orangnya.”
Shania jadi tersipu malu dan dia hanya tersenyum kecil hingga membuat rona pipinya yang putih mulus itu jadi merah merona.
“Wooo…ooo!” kami pun saling menyoraki Dika yang udah keterlaluan playboy.
“Eh, jangan macem-macem ya! Inget Pramesti tuh!”
“Iya… iya! lagian aku juga masih setia kok sama dia.” Sungut Dika rada kesal.
“Ya udah deh, kalau begitu kita makan jambu bareng-bareng yuk!” unjuk Dika dengan nada bijak. Lantas, kami berlima duduk di bawah pohon jambu besar di kebun milik pak Usman dan menikmati jambu hasil buruan kami beramai-ramai.


“Reyn, anterin gue pipis dong. Gue takut nih!” bisikku sambil membangunkan Reyna. Kulihat dengan samar-samar lampu pijar eyangku yang redup itu. Suasananya sangat sepi karena semua orang lagi tidur.
“Duh, gue ngantuk banget nih. Ke kamar mandi sendiri aja ya, Ly.”
Aku sedikit mendesah. Kebiasaan deh kalau Reyna itu susah banget dibangunin.

Akhirnya dengan terpaksa aku bangun sendirian dan pergi ke kamar mandi. Aku membuka pintu besar itu dan di samping kananku ada ruang besar yang digunakan untuk ruang makan keluarga eyang. Dan..
Sekelebat aku ngerasa ada yang orang yang melintas di balik gorden jendela. Cepet banget menghilangnya. Aku berusaha tenang, mungkin ini cuma halusiku aja yang suka mikir macem-macem. Maklum, akhir-akhir ini aku suka banget nonton film horor. Aku berjalan mengarah ke samping kiriku, tempat dimana ada pintu lagi yang akan mengantarkan aku ke kamar mandi. Lagi-lagi.. aku merasa ada yang melintas di belakangku. Dan sontak aja aku menoleh ke belakang.
“Siapa itu? Eyang? Reyn? Dika?” aku manggil nama-nama orang yang ada di rumah ini. Tapi nggak ada jawaban, buru-buru deh aku ngacir ke kamar mandi dan nggak peduli apa yang tadi melintas di belakangku. Beberapa menit kemudian aku keluar kamar mandi. Dan akan masuk ke dalam rumah. Karena kamar mandi dan dapur eyangku letaknya terpisah dari ruangan-ruangan lain. Letaknya pun di belakang rumah.
Saat itu, samar-samar aku melihat ada sosok misterius yang sedang berdiri di dapur gelap eyangku. Tepatnya di depan pintu kecil yang menghubungkan dapur dengan kandang ayam. Wujudnya nggak terlalu kelihatan jelas. Tapi aku bisa menerka sosok itu cewek. Ia memandangi aku sebentar, hingga aku cepat-cepat masuk dan menutup pintu. aku menyeruak di antara selimut tebalku dan berusaha menghilangkan tentang sosok cewek tadi.

“Duh, jujur Reyn! Gue tuh semalam lihat penampakan gitu di dapur eyang. Gue takut banget!”
“Udah deh, Ly. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor. Jadi kayak gitu deh akibatnya!” kata Reyna sambil ngomel-ngomel dan dia lagi asyik ngemil klanting (makanan khas daerah eyangku) kami berdua duduk di pagar tembok mengarah ke kebun eyang dan dikejauhan sana ada kebun pak Usman. Aku cuma diam, dan ngaku kalau aku yang salah. Tapi bisa nggak sih Reyna percaya sama aku sedikit aja kalau itu memang bener-bener kenyataan?

Saat Reyna menyingkir dari hadapanku untuk menghampiri Azzam yang lagi asyik internetan di atas dipan kayu, aku melihat sosok cewek itu dari balik pohon-pohon rambutan disana. Dia lagi-lagi menatap aku, hingga akhirnya aku berdiri untuk manggil Reyna.
“Reyn, i…ii.. ituu! ii..tu cewek yang gue lihat kemarin malem!”
“Mana sih? orang nggak ada apa-apa kok!” ketus Reyna kelihatannya rada jengkel mendengar aku suka mikir yang macem-macem. Apalagi tentang hantu.
“Eh, Ly! Mau kemana?” tanya Reyna manggil aku.

Aku nggak ngegubris dia sama sekali. Aku keluar dan menghampiri pohon rambutan tempat dimana aku lihat ada penampakan cewek tadi. Saat aku ada di dekat pohon itu, ternyata nggak ada apa-apa. Justru secara mendadak aku ngerasa ada yang menepuk bahuku.
“Aaaaa!” aku menjerit.
“Lily?” ternyata suara itu berasal dari Shania. “Kamu ngapain disini?” tanya Shania padaku.
“Eng… eng.. enggak kok. aku Cuma.. ya cuma lihat-lihat aja, sambil menikmati udara pagi yang masih segar ini.”
“Oh,”
“Kalau kamu, Shania?” aku balik tanya sama dia.
“Sama kok, aku juga lagi jalan-jalan terus ketemu sama kamu deh.”
“Kamu nggak kerja atau kuliah?”
Shania menggeleng dengan cepat. Sambil berkata, “Kuliahku lagi libur.”
“Kita jalan-jalan bareng yuk!”
“Oh, boleh-boleh. Kalau aku ajak temen-temenku gimana? Kamu nggak keberatan kan?”
“Tentu.” Ucap Shania dengan senyumnya yang begitu hangat.

Akhirnya, aku manggil ketiga temanku untuk ikut jalan-jalanku dengan Shania. Hari ini kami akan keliling desa eyangku. Mungkin ke empang atau ke pinggir sawah atau kalau enggak berburu jambu mete dan buah asem kali ya.

“Gila ya! Tuh cewek secantik Shania masa tinggal sendirian sih di rumah besar itu?” ujar si Azzam sambil membuka obrolan kecil kami saat perjalanan pulang ke rumah eyang. Kami lagi asyik menyusuri jalanan kecil dengan samping kiri kami rumah warga yang dipagari oleh semak-semak belukar dan samping kanan kami kebun yang sebagian besar ditanami pohon kelapa dan singkong.
“Iya sih, gue takutnya dia diperk*sa sama maling..”
Hus! Reyna dengan cepat memotong ucapan Dika yang belum selesai itu.
“Elo tuh ngaco banget sih kalo ngomong.”
“Iya tuh, ngomongin yang enggak-enggak. Tentang Shania lagi.” imbuh Azzam membela omongan Reyna.
“Gue kan cuma mengkhawatirkan Shania, bro!” sengak Dika lagi.
“Mengkhawatirkan sih boleh aja, tapi nggak gitu-gitu amat kalee!”
“Assh, kalian ini pada ngomongin apaan sih?!” ucapku dari tadi ngerasa aneh selama perjalan pulang kami. “Kalian ngerasa ada yang ngikutin kita di belakang nggak?”
“Tuh, mulai lagi deh ngehayalnya!” semprot Reyna lagi-lagi protes.
“Ah udah deh! Daripada ngomongin Shania apalagi nggubris tentang khayalan tingkat tinggi si Lily, mending buruan deh jalannya. Udah mau maghrib nih! Keburu gelap tahu!”

Kata Azzam menyudahi argumen konyol kami. Akhirnya kami mempercepat langkah kaki yang masih berdiri di pertigaan jalan setapak ini. karena jalanan di depan rumah eyang hampir gelap. Cuma dipancari sebuah lampu pijar di pinggir jalan. Itu pun jauh dari tempat kami melangkah. Dan beruntung banget, karena rumah eyang tinggal beberapa langkah lagi. jadi kami bisa sampai disana sebelum azan maghrib berkumandang dan hari senja telah benar-benar gelap.

Hari ini, kami bertiga punya kesempatan buat mampir ke rumah Shania. Maklum mumpung kami belum kembali ke Solo. Dan menikmati liburan kuliah kami yang masih tersisa banyak. Kami menembus tumbuhan ilalang yang tumbuh melintang di sekitar rumah besar Shania.

Rumah Shania terletak di belakang kebun pak Usman dan itu pun kami harus melintasi lahan persawahan yang luasnya berhektar-hektar. Duh, sumpah deh! kalau dipikir-pikir rumah Shania tuh beda banget sama rumah-rumah lain. Rumah Shania letaknya sangat sulit dijangkau oleh sebagian besar warga desa. Letaknya sangat tertutup oleh rimbunan pohon bambu dan rumput ilalang yang sudah memanjang. Hingga menutupi pandangan rumah itu. Ditambah letak bangunan besar itu di atas lahan kosong dan agak berdekatan dengan kuburan. Hii…! serem amat ya. Tapi yang bikin aku heran, kenapa Shania berani amat tinggal sendirian di tempat ini.

“Hai, teman-teman.” Sapa Shania pada kami bertiga yang tengah memasuki ruangan tengah rumahnya. “Selamat datang di rumahku ya, anggap aja rumah ini kayak rumah kalian.”
“Eh.. iya.. iya, Shan. Betewe, rumahmu gedhe banget ya! Tapi, sayang banget kalo…”
“Ssst!” senggol Reyna pada Dika. Aku dan Azzam cuma bisa geleng kepala saat lihat tingkah konyol mereka berdua.
“Ah, Dika bisa aja deh.” Lagi-lagi Shania cuma bisa menyungging senyum karena malu si Dika habis-habisan memujinya. Menurutku itu bukan kata pujian, tapi lebih ke sindiran.

Kemudian, Shania segera mempersilahkan kami masuk ke ruang tamu.
“Sebentar ya, Shania pergi ke dapur dulu. Bikin suguhan buat kalian semua.”
“Oke deh, Shania.” Ucap Azzam kemudian.
“Eh.. Reyn – Ly, gue sama Dika keliling rumah Shania sebentar ya!” tungkas Azzam pada Reyna.
“Iya.. iya, tapi jangan lama-lama ya!” balas Reyna.
Kulihat Azzam dan Dika segera cabut dari tempat kami yag sedang duduk manis di sofa.

“Lily… tolong aku, Ly…” tiba-tiba aku mendengar suara bisikan aneh di telingaku. Dan ngerasa ada desir angin di dekatku. “Keluarkan aku dari sini…” bisikan itu terus menghantui aku sejak aku masuk di rumah ini. Aku berusaha tenang dan melihat-lihat seisi rumah Shania sambil melupakan bisikan aneh tadi.

Kulihat atap-atap rumah Shania seperti sudah sangat kusam dan hampir dimakan usia. Apalagi kipas hias itu juga hampir mau copot karena bergoyang-goyang diterpa angin.

Gubrakk! Terdengar suara benda jatuh yang nyaris membuat kami kaget.
“Tenang, paling cuma tikus kok.” ujar Reyna menenangkanku.
Apa? tikus? Mustahil deh! Masa rumah segede ini ada tikusnya sih? kecuali kalau rumahnya nggak terawat dan nggak berpenghuni.

Fiuh! Aku mencoba tenang lagi. dan lagi-lagi bisikan yang sama muncul di telingaku sambil diiringin suara jeritan cewek yang lagi merintih kesakitan juga suara hantaman benda-benda tumpul mendera tubuhnya bertubi-tubi.

“Aarghhh! Sakittt!”
“Bugg… bugg… bugg!”
“Argggh!”
“Tolong aku…! tolong!”
“Bugg… bugg… bugg!”
“Bunuh saja aku! Bunuh aku!”

Aku mencoba memejamkan mata sambil komat-kamit mengucap kalimat istiqfar dan tahlil berkali-kali. Sampai-sampai, saking aku ketakutan telapak tanganku dibuat basah karena keringat dingin. Dan aku mengenggam erat lengan Reyna.
“Eh, Ly. Tangan lo kok berkeringat sih? lo sakit ya?” tanya Reyna jadi kaget.
“Reyn, please deh! Gue takut.. gue tadi denger bisikan aneh dan mengerikan semenjak masuk di rumah ini. Gue mau pulang aja!”
Reyna menghela nafasnya sebentar. “Ly, please deh! Masa sih kita baru sampai disini trus tiba-tiba pulang gitu aja. Nggak enak hati tahu sama Shania.”
“Tapi, Reyn. gue takut banget!”
“Udah deh, tenangin dulu pikiran lo. Nyebut, Ly!”
Reyna cuma bisa mengelus-elus tanganku. Dan aku berusaha tenang walaupun masih ketakutan.

Sementara itu, Dika dan Azzam kembali dengan gurat rasa penuh kecurigaan.
“Eh, tahu nggak kalian? Dari tadi gue sama Dika keliling rumah Shania, nggak ada foto yang nunjukkin keluarganya Shania di sini. Gue heran deh, ini rumah Shania atau bukan sih?”
“Eh, mungkin aja Shania nyimpen foto keluarganya di suatu tempat. Udah deh, daripada mikirin tentang foto keluarga Shania mendingan mikirin si Lily tuh! Dia lagi ketakutan karena denger suara bisikan aneh.”
“Beneran Ly?” tanya Dika padaku.
Aku nggak menjawab pertanyaannya. Selain aku diam dan berusaha melupakan bisikan aneh itu sejak tadi.

“Maaf ya aku lama banget bikin suguhannya buat kalian.” Tiba-tiba Shania muncul sambil membawa baki berisi minuman es sirup merah dan kue lapis untuk kami. Dia menurunkan baki itu di atas meja dan menaruh suguhan itu satu persatu.
“Dinikmati ya suguhannya. Cuma itu yang aku punya.”
“Iya, Shania.” Reyna membalasnya dan kami bertiga berusaha tersenyum walaupun keadaan rumah Shania nggak bisa ngebuat kami bertiga senyum seutuhnya. Aku pun juga turut tersenyum, dan berusaha menghilangkan kekacauan pikiranku dengan mengambil minuman es sirup merah itu. Baru aku mau menyeruput minuman hasil bikinan Shania, tiba-tiba yang aku lihat adalah segelas darah merah segar di hadapanku. Aku semakin ketakutan dan..
Pyarrr! Gelas itu nggak sengaja aku buang ke lantai.

“Darahh! Darah!” aku berteriak-teriak sambil memandangi cairan merah yang membasahi lenganku.
“Ly, apa-apaan sih?” kata Reyna. “Ini bukan darah, tapi sirup!”
“Oh, aku ganti dengan air putih aja ya.” Kata Shania sambil bergegas ke dapur.
Sementara aku cuma bisa berdiri menjauh dari tempatku duduk tadi.
“Ly, lo kenapa? Kok lo mendadak jadi kayak gini sih?”

Kemudian, Shania datang lagi dan menyodorkan serbet untukku. Tapi..
Lagi-lagi yang aku lihat bukannya serbet bersih, justru kain kotor yang berlumuran darah.
“Stop.. stop.. stop! Gue benci semua ini. Gue benci!”
Shania memandang heran dari aku. Begitu juga dengan Dika, Azzam, dan Reyna.
“Gue mau pulang sekarang juga! Gue nggak mau dibikin gila gara-gara teror sialan ini!”
“Ly!” sahut Reyna manggil namaku dan segera menyusul aku yang udah duluan pergi ke pintu utama.

Aku mencoba buka pintu besar itu, dan.. ini aneh! Pintu itu sudah terkunci. Aku mencoba goyang-goyangin handle pintu itu sampai beberapa kali. Tapi hasilnya tetep nihil .. ( to be continue )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar